Skip to main content

Posts

Kasih Allah: Adil dan Tidak Memihak

Kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah ada habisnya dibicarakan. Bahkan, ada terlalu banyak perkataan serta perbuatan untuk mengungkapkannya; karena kasih itu sendiri sangat luas dan beragam. Namun, saat berbicara tentang kasih, tentu kita tidak bisa melepaskannya dari Allah, Sang Sumber Kasih itu sendiri. Allah yang adalah Kasih memberikan kasih-Nya bagi setiap manusia tanpa syarat, tanpa batas, dan tanpa kecuali. Kasih Allah itu sama bagi setiap manusia; adil dan tidak memihak. Hanya saja, cara-Nya memberikan kasih itu yang belum tentu sama seorang dengan yang lain. Bergantung pada relasi seseorang dengan-Nya, juga tingkat kedewasaan iman orang tersebut. Hal inilah yang seringkali tidak kita mengerti sebagai anak-anak Allah. Kita menganggap Allah pilih-pilih dalam memberikan kasih-Nya. Kita menyebut Allah tidak adil karena kita merasa Ia memihak kelompok tertentu. Mereka yang belum mengenal Allah, mereka yang sering jatuh bangun dalam dosa, mereka yang tidak sungguh-sunggu...

Penolakan

Setiap manusia di dunia pasti pernah mengalami penolakan paling tidak satu kali dalam hidupnya. Baik penolakan yang dilakukan dengan halus, maupun penolakan yang dilakukan dengan kasar. Setiap penolakan bisa berujung pada timbulnya kekecewaan, sakit hati, bahkan luka batin. Hal itu tentu bergantung pada tingkat kehalusan penolakan tersebut. Tapi, lebih dari itu, tingkat sakit hati yang kita alami sebenarnya lebih bergantung pada sikap kita terhadap penolakan itu sendiri. Tidak semua penolakan perlu kita pertimbangkan lebih lanjut. Walaupun ada juga yang memang harus benar-benar kita pikirkan dengan baik. Terlepas dari semua itu, terkadang kita memang perlu mengalami penolakan dalam hidup kita. Agar kita lebih tahu apa yang perlu kita perbaiki dalam diri kita. Sehingga kita juga bisa berkembang lebih baik baik lagi dan semakin mendekati kriteria manusia yang sempurna menurut Tuhan dalam firman-Nya. Penolakan tidak selalu buruk. Penolakan bisa menjadi sesuatu yang baik. Tergantu...

I Want To...

How can I not feeling down when my heart hurts? How can I keep smiling when tears are falling down? How can I stay still when someone dear to me did this? How can I just let it go when it hurts my ego? I don’t want to feel down. I want to keep smiling. I want to stay still. I want to let it go. I’ve never ask for this kind of humiliation. And I don’t deserve to receive it. What sin did I do to you, so you do this to me? If you don’t like me, why don’t you just tell me? So I can go away from your life and keep a distance from everyone you love? Just so you know, it hurts. Really. Deeply. I want to ignore it, but I can’t. I just can’t. I don’t know why. Maybe because I love and trust you like my own family? I don’t want to feel down anymore. I want to keep smiling again. I want to stay still. I want to let it go. But, how? Tell me. Pleas...

Aku, Korban...

Aku… Korban… Dari sebuah tindak kriminal yang merenggut kebahagiaanku. Dari sebuah pelecehan yang dilakukan oleh seekor anjing gila. Dari sebuah ketidakadilan demi menjaga nama baik. Aku marah, ingin berontak, ingin menuntut keadilan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku dipaksa untuk diam. Menangis tanpa suara. Marah tanpa berteriak. Agar tetangga tidak terbangun dan mencari tahu apa yang telah terjadi. Sudah sekian belas tahun aku diam. Sudah sekian belas tahun aku memendam sendiri semua sakit yang ‘ku rasakan. Sudah sekian belas tahun pula mereka tahu apa yang terjadi padaku dan tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya diam mengetahui anaknya dilecehkan dari hari ke hari. Mereka hanya bisa meminta anaknya kembali tidur setelah mengalami kemaksiatan. Mereka selalu menahan anaknya untuk membuka suara ke dunia luar. Agar nama baik mereka dan anaknya yang lain tetap terjaga. Ya! Ana...

Memaafkan - Melupakan

Memaafkan dan melupakan. Bagiku, itu adalah dua hal yang berbeda sama sekali. Saat kamu melakukan kesalahan padaku, aku bisa memaafkanmu, tergantung besar kecilnya kesalahan yang kamu buat. Jika kesalahanmu kecil, aku bisa langsung memaafkanmu saat itu juga. Jika kesalahanmu besar, tentu aku butuh waktu untuk memaafkanmu. Tapi aku pasti (bisa) memaafkanmu. Akan tetapi, jangan berharap aku akan melupakan kesalahan yang kamu buat itu. Jika kesalahanmu kecil, aku akan melupakannya dengan segera. Jika kesalahanmu besar, bahkan sangat besar, sepertinya aku tidak akan (bisa) melupakannya seumur hidupku. Terlebih jika kamu tidak pernah meminta maaf secara langsung padaku, yang tentu harus dilakukan dengan hati yang tulus. Aku tidak akan pernah (bisa) melupakan kesalahanmu seumur hidupku. Kenapa? Aku tidak ingin hatiku terluka lagi oleh kesalahan yang sama atau malah lebih besar. Aku tidak ingin hatiku melewati masa-masa sulit lagi, masa-masa yang sama yang pernah aku dan ha...






Instagram